Minggu, 17 Oktober 2010

Tipografi

ABSTRAK

Di dalam era informasi saat ini kehadiran desain komunikasi visual sangatlah dibutuhkan. Sesuai dengan namanya, desain komunikasi visual mempunyai tujuan untuk mengkomunikasikan pesan yang dapat ditangkap oleh massa dengan benar. Salah satu elemen desain yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu desain dalam berkomunikasi dengan masyarakatnya adalah tipografi.


Definisi Tipografi
Dalam desain komunikasi visual tipografi dikatakan sebagai ‘visual language’, yang berarti bahasa yang dapat dilihat. Tipografi adalah salah satu sarana untuk menterjemahkan kata-kata yang terucap ke halaman yang dapat dibaca. Peran dari pada tipografi adalah untuk mengkomunikasikan ide atau informasi dari halaman tersebut ke pengamat. Secara tidak sadar manusia selalu berhubungan dengan tipografi setiap hari, setiap saat. Pada merek dagang komputer yang kita gunakan, koran atau majalah yang kita baca, label pakaian yang kita kenakan, dan masih banyak lagi. Hampir semua hal yang berhubungan dengan desain komunikasi visual mempunyai unsur tipografi di dalamnya. Kurangnya perhatian pada tipografi dapat mempengaruhi desain yang indah menjadi kurang atau tidak komunikatif. Ada empat buah prinsip pokok tipografi yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu desain tipografi yaitu legibility, clarity, visibility, dan readibility.

Empat Prinsip Tipografi
Prinsip yang pertama Legibility adalah kualitas pada huruf yang membuat huruf tersebut dapat terbaca. Dalam suatu karya desain, dapat terjadi cropping, overlapping, dan lain sebagainya , yang dapat menyebabkan berkurangnya legibilitas daripada suatu huruf.

Prinsip pokok yang kedua adalah clarity, yaitu kemampuan huruf-huruf yang digunakan dalam suatu karya desain dapat dibaca dan dimengerti oleh target pengamat yang dituju. Untuk suatu karya desain dapat berkomunikasi dengan pengamatnya, makainformasi yang disampaikan harus dapat dimengerti oleh pengamat yang dituju. Beberapa unsur desain yang dapat mempengaruhi clarity adalah, visual hierarchy, warna, pemilihan type, dan lain-lain.

Prinsip yang ketiga adalah Visibility. Yang dimaksud dengan visibility adalah kemampuan suatu huruf, kata, atau kalimat dalam suatu karya desain komunikasi visual dapat terbaca dalam jarak baca tertentu. Fonts yang kita gunakan untuk headline dalam brosur tentunya berbeda dengan yang kita gunakan untuk papan iklan. Papan iklan harus menggunakan fonts yang cukup besar sehingga dapat terbaca dari jarak yang tertentu. Setiap karya desain mempunyai suatu target jarak baca, dan huruf-huruf yang digunakan dalam desain tipografi harus dapat terbaca dalam jarak tersebut sehingga suatu karya desain dapat berkomunikasi dengan baik.

Prinsip yang keempat adalah Readibility adalah penggunaan huruf dengan memperhatikan hubungannya dengan huruf yang lain sehingga terlihat jelas. Dalam menggabungkan huruf dan huruf baik untuk membentuk suatu kata, kalimat atau tidak harus memperhatikan hubungan antara huruf yang satu dengan yang lain. Khususnya spasi antar huruf. Jarak antar huruf tersebut tidak dapat diukur secara matematika, tetapi harus dilihat dan dirasakan. Ketidak tepatan menggunakan spasi dapat mengurangi kemudahan membaca suatu keterangan yang membuat informasi yang disampaikan pada suatu desain komunikasi visual terkesan kurang jelas. Huruf-huruf yang digunakan mungkin sudah cukup legible, tetapi apabila pembaca merasa cepat capai dan kurang dapat membaca teks tersebut dengan lancar, maka teks tersebut dapat dikatakan tidak readible. Pada papan iklan, penggunaan spasi yang kurang tepat sehingga mengurangi kemudahan pengamat dalam membaca informasi dapat mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak seluruhnya ditangkap oleh pengamat.Apabila hal ini terjadi, maka dapat dikatakan bahwa karya desain komunikasi visual tersebut gagal karena kurang komunikatif. Kerapatan dan kerenggangan teks dalam suatu desain juga dapat mempengaruhi keseimbangan desain. Teks yang spasinya sangat rapat akan terasa menguasai bidang void dalam suatu bentuk, sedangkan teks yang berjarak sangat jauh akan terasa lebih seperti tekstur.

Layout Koran


Sebuah suratkabar mempunyai ciri-ciri yang dapat dilihat dari format (broadsheet, tabloid, majalah dsb), cara paginations (pemakaian kolom), cara pemakaian tipografi (huruf), warna, akhirnya akan membedakan segmen pasar suatu media cetak. Untuk menengah ke atas atau menengah ke bawah, untuk anak-anak, remaja atau dewasa.

Layout dalam sebuah koran/surat kabar memiliki fungsi serta tujuan untuk "sell the news, grade the news set the tone, and guide the readers "(menawarkan/menjual berita, menentukan rangking berita, membimbing para pembaca akan hal-hal yang harus dibaca terlebih dahulu). Lebih lanjut layout sebuah surat kabar/koran dibuat dengan menyesuaikan gerak mata para pembaca.

Dalam penyusunan layout sebuah surat kabar/koran, selain diperlukan adanya pengetahuan tentang jenis dan warna huruf atau tipografi, juga harus memiliki jiwa seni. Sebab dari ukuran huruf untuk headline, panjang berita, besar dan warna foto atau tulisan sangat berpengaruh terhadap mata pembaca. Posisi suatu berita, isi dan pola yang digunakan semuanya dibuat untuk melayani pembaca. Sehingga layout itu disesuaikan dengan siapa pembacanya.

Berdasarkan desain, layout, dan tipografi dapat menjadi sebuah ekspresi pencerminan kepribadian surat kabar itu sendiri, sehingga pembaca dapat memberikan penilaian akan jenis surat kabar yang dibacanya.


POLA LAYOUT
Berdasarkan jenisnya layout suratkabar/koran dapat dibedakan menjadi:


Pertama
Symitrikal layout; disebut juga foundry/vertical lay-out, karena lebih seperti jemuran, letak berita-beritanya seimbang. Layout seperti ini digunakan untuk menata iklan baris atau iklan kecik.


Kedua
Informal balance layout; banyak dipakai oleh surat kabar yang mau mengejar kepada kesempurnaan suatu keseimbangan. Foto yang hitam akan lebih baik jika diletakkan di kanan atas halaman, dan akan kelihatan berat kalau diletakkan di bagian bawah halaman.

Ketiga
Quadrat layout atau tata rias segi empat; sangat baik untuk surat kabar yang akan dijual di pinggir jalan secara eceran, karena koran akan berlipat empat, dan pada seperempat bagian yang tampak itu akan diperlihatkan berita-berita penting dan menarik.

Keempat
Brace lay-out; menonjolkan suatu berita besar, lay-out seperti ini sering menggunakan "Banner Headline", judul panjang. Berita penting ditempatkan disebelah kanan surat kabar, sehingga mengikat pandangan pembaca ke arah sana, kemudian judul lain di sebelah kiri, dan sebelah kanan lagi.

Kelima
Circus layout; tata rias karnaval, karena ramainya halaman depan. Semua judul berita dipamerkan di halaman pertama, isinya di halaman lain. Contoh seperti ini adalah Pos Kota (Jakarta), atau koran-koran mingguan.

Keenam
Horizontal layout; tata rias mendatar, judul berita dibuat mendatar, dengan berita yang tidak terlalu panjang.

Ketujuh
Function layout; tata rias yang setiap hard berubah, bergantung kepada perkembangan isi berita hard itu. Bila terjadi hal-hal luar biasa sering dipakai apa yang disebut "skyline heads". Jadi ada gejala pemindahan nama tempat nama surat kabar itu sendiri. Layout seperti ini sering juga dipakai oleh koran-koran mingguan terbitan Jakarta.
Catatan:

Lay out hendaknya mengikuti kebiasaan arah mata berputar dari kiri ke kanan, iklan hendaknya jangan diletakannya dihalaman depan.

Gambar yang baik, yang ada di aksinya hindari memuat pasfoto karena dengan foto aksi (action) seolah- olah pembaca bertahap muka dengan orag bersangkutan.

Gambar hendaknya jangan disebelah kiri halaman.Fungsi foto sama dengan headline foto mempunyai yang penting dalam lay out.

Gambar jangan bertumpuk kalau banyak, dapat diletakan di halaman adalam atau bersambung ke halaman lain.

Kalau surat kabarnya berwarna jangan terlalu banyak menapilkan warna sebaiknya redaktur mempelajari bahasa atau mengangkat seorang seniman yang mengerti arti warna.

Berita ditulis bukan untuk menyenangkan sumber berita tetapi untuk kepentingan pembaca.

Selain bentuk kolom-kolom menjadi sangat penting untuk layout koran ada satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu white space atau ruang kosong.Penggunaan white space, atau ruang kosong, berguna untuk membantu pembaca fokus ke sajian utama, juga memisahkan elemen, entah karena alasan prioritas atau memang seharusnya terpisah. Penggunaan ruang kosong yang tepat juga membantu pembaca untuk menikmati halaman dengan lega, sehingga membuat effek si pembaca berita merasa lebih nyaman tidak terkesan terlalu padat. White space ini biasanya juga ditempatkan sebagai pembatas antara berita dengan iklan.

Berbagai cara sengaja dilakukan oleh pembuat desain/lay out koran tujuannya cuma satu, bagaimana membuat pembaca nyaman membaca dan cepat menangkap informasi yang ingin disampaikan dalam berita.